BERKENALAN DENGAN METODE ABA

Applied Behavior Analysis atau Analisis Perilaku Terapan adalah sebuah ilmu yang menggunakan prinsip analisa perilaku yang digunakan untuk meningkatkan perilaku dan kemampuan-kemampuan lain yang dibutuhkan seperti meningkatkan komunikasi, keterampilan sosial, dan perilaku pada anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD). Terapi ABA menggunakan metode pengajaran berbasis penelitian seperti pemodelan, bantuan, penguatan positif, dan teknik lain untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan ini dengan lebih baik. Ketika digunakan sebagai teknik intervensi dini, program ABA dapat membantu anak-anak dengan autisme terlibat lebih baik di dunia.
Dengan kata lain, ABA berfokus pada perilaku fungsional yang bisa dipakai di keseharian, yang bisa diterima sosial berlandaskan budaya. Bertujuan untuk mengubah, memperbaiki, dan meningkatkan perilaku spesifik menjadi perilaku perilaku yang diterima secara sosial dan menggunakan metode ilmiah yang obyektif, kuantitatif

Beberapa karakteristik ABA :
• Perilaku yang diajarkan bisa ditampilkan dimanapun saat dibutuhkan. Misalnya : perilaku manding, meminta. Anak bisa melakukan mand (perilaku meminta) yang diinginkan dimanapun, perilaku bertanya, dll
• Berpusat pada data (data based)
• Berfokus pada perilaku yang aplikatif dan dipakai di keseharian, misalnya perilaku makan, toilet training, dll
• Prosedur terapi sesuai dengan prinsip dasar perilaku
• Berhubungan dengan perilaku, terapi metode ABA fokus pada perilaku yang aplikatif seperti perilaku bicara, perilaku berkomunikasi, perilaku makan, perilaku bermain dll
• Prosedur yang terstruktur dan terukur, ada skoring, ada grafiknya agar lebih jelas terlihat kemajuannya

Prinsip Dasar ABA

Antecedent : Pencetus / stimulus yang muncul sebelum adanya perilaku

Behavior : perilaku yang muncul akibat adanya stimulus yang mendahului

Consequence : Konsekuensi yang didapat, bisa berupa penguat (reinforcement) atau hukuman (punishment)

Setiap perilaku terjadi karena suatu sebab, dan perilaku yang dilakukan akan mendapatkan konsekwensi, apakah konsekwensinya negative atau positif. Aplikasinya pada terapi ABA, setiap perilaku yang kita ajarkan dan dilakukan oleh anak, akan mendapatkan penguat, misalnya : makanan, mainan, senyuman, pujian, dll. Tujuannya, agar anak mengulangi lagi perilaku yang sudah kita ajarkan tadi

Ada banyak kesalahpahaman yang sering terjadi tentang metode ABA, hal ini disebabkan belum adanya standarisasi metode ABA di Indonesia, sehingga banyak versi pengajaran menggunakan metode ABA. Berikut sepuluh kesalahpahaman umum tentang ABA dan bagaimana hal itu dapat membantu anak-anak dengan spektrum autism :

1. Terapi ABA dapat menyembuhkan Autisme.
Tidak ada ‘obat’ untuk autisme. Metode ABA berusaha untuk mendukung individu-individu ini dengan membangun keterampilan di semua bidang perkembangan (yaitu, komunikasi, sosial, kehidupan sehari-hari, dll.) yang mendorong kemandirian dan membantu mereka berkembang di lingkungan sehari-hari mereka.

2. Terapi ABA membuat anak menjadi robot
Salah satu kekhawatiran yang sering disuarakan oleh para orang tua adalah bahwa ABA berusaha menciptakan individu-individu yang ‘terprogram’ yang hanya melafalkan apa yang telah diajarkan kepada mereka. Meskipun ada beberapa komponen hafalan yang digunakan selama strategi dan pengajaran ABA, program ABA yang efektif akan memastikan bahwa semua program memiliki komponen fungsional dan valid secara sosial yang diterapkan selama pengajaran.

3. Terapi ABA hanya untuk anak autisma saja
ABA diperkenalkan sebagai intervensi ilmiah untuk individu dengan autisme pada 1960-an dan 1970-an, tetapi telah ada sebagai sains sejak 1938 oleh Behavioris BF Skinner, menggunakan prinsip-prinsip pengkondisian operan atau belajar melalui konsekuensi (yaitu penghargaan.)

Program ABA yang baik dapat membantu mengajarkan keterampilan peserta didik di semua bidang kehidupan, seperti:
• Keterampilan sosial,
• Kemampuan berkomunikasi,
• Keterampilan bermain
• Keterampilan hidup mandiri
• Kemampuan berkomunikasi
• Keterampilan keselamatan masyarakat
• Perilaku
• Keterampilan kesiapan akademik

Metode ABA juga dapat digunakan sebagai terapi yang efektif untuk berbagai gangguan kesehatan mental:
• Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
• Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD)
• Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)
• Gangguan Kepribadian Borderline (BPD)

ABA aktif digunakan sebagai terapi untuk mengobati segudang konsep sosial seperti:
• Merokok
• Penurunan berat badan
• Mengurangi kecelakaan di pabrik, dll.

Karena semua manusia menunjukkan berbagai perilaku, konsep terapi ABA dapat diterapkan di hampir semua situasi dengan menggunakan perilaku yang sama

4. ABA hanya menggunakan ‘latihan terus menerus’ yang dilakukan di meja untuk mengajar anak.
Discrete Trial Training merupakan metode pengajaran yang sudah lama ada dan lebih umum diterapkan pada awal layanan terapi anak dengan autisma. Pelatihan dengan tekhnik DTT menggunakan cara pemecahan keterampilan yang kompleks menjadi tugas-tugas yang lebih kecil dan terpisah dan kemudian menggabungkan tugas-tugas tersebut untuk mencapai tujuan yang kompleks. Tekhnik ini akan efektif jika diajarkan secara repetitive / berulang kali.
Walaupun DTT masih dipakai dan masih menjadi komponen dari program ABA, banyak praktisi sekarang fokus dan menggabungkan Pelatihan natural (NET) ke dalam sesi dan pengajaran. NET menggabungkan strategi pengajaran ke dalam peluang berbasis permainan dan alami yang muncul di lingkungan anak, bukan hanya di meja. DTT dan NET hanyalah dua dari banyak strategi pengajaran yang digunakan dalam sesi ABA. Variasi ini memungkinkan banyak cara untuk mengajar dan melakukan sesi tanpa mengharuskan seorang anak untuk duduk di meja untuk waktu yang lama.

5. ABA menentukan program anak tanpa mempertimbangkan apa yang mereka inginkan atau apa yang saya inginkan untuk mereka.
Orang tua harus dilibatkan sejak awal layanan, mulai dari Asesment Fungsi Perilaku. Untuk memastikan program memiliki validitas sosial, individu yang menerima layanan terapi yang dibutuhkan dan orang tua atau pengasuh dimasukkan ke dalam tujuan pengembangan untuk membantu lebih memahami mengapa anak mereka menerima terapi dan pada gilirannya, memperkuat rencana di luar sesi terapi. Ini harus mencakup pertimbangan budaya dan/atau agama, nilai-nilai keluarga, dll dan juga harus mempertimbangkan apa yang menurut individu dan orang tua atau pengasuh mereka sebagai keterampilan yang penting untuk diajarkan atau dilatihkan sehingga akan memperbaiki kualitas hidup yang mereka inginkan.

6. Semua program ABA sama
Program terapi harus selalu disesuaikan secara individual untuk anak Anda dan kebutuhan mereka, gaya belajar, item yang disukai, dll.
ABA bukanlah pendekatan satu ukuran untuk semua. Penilaian terus-menerus dievaluasi ulang untuk memastikan bahwa kebutuhan anak Anda terpenuhi. Jadi terapi akan selalu berusaha keras untuk kemajuan dan peningkatan yang konstan untuk memberikan layanan seefektif mungkin.

7. ABA menggunakan suap untuk mengajari anak-anak apa yang harus dilakukan dan bagaimana berperilaku.
ABA menggunakan konsep reinforcement atau penguatan positif untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan, jadi tidak sama dengan suap. Seringkali dengan suap, hadiahnya bahkan mungkin diberikan sebelum perilaku yang diinginkan selesai.
Penguatan adalah konsep bahwa perilaku yang diinginkan lebih mungkin untuk diulang di masa depan jika sesuatu yang disukai atau diinginkan, terjadi. Prosedur penguatan dapat dimulai dalam bentuk token, stiker, dan bahkan edibles. Ketika seorang anak mengembangkan dan menguasai suatu keterampilan, keterampilan itulah harus menjadi reinforcement tersendiri disamping pujian sosial yang lebih alami.

8. ABA tidak memperhatikan emosi individu/anak
Emosi individu dalam ABA selalu dipertimbangkan, tidak hanya dalam pengembangan program, tetapi secara khusus diajarkan agar anak dapat berkomunikasi secara fungsional. Memberikan bantuan modeling dan mengajarkan bahasa dalam bentuk apa pun seputar emosi dan bagaimana menanggapinya adalah bagian penting dalam menciptakan kemandirian dan otonomi bagi seorang individu. Tim klinis juga harus mengakui emosi anak selama tugas-tugas sulit, kesulitan belajar, menyelesaikan aktivitas yang tidak disukai, dll.

Analisis Perilaku Terapan adalah terapi yang paling banyak diteliti dan efektif untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Pendapat negatif seputar ABA terutama berasal dari kurangnya pemahaman. Penelitian menunjukkan bahwa ABA dapat meningkatkan keterampilan sosial, kemampuan komunikasi, perilaku adaptif, dan kesejahteraan dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Jika Anda memiliki pertanyaan atau ingin mengetahui bagaimana kami dapat bekerja sama di bidang yang Anda butuhkan, silakan hubungi kami di sini. Tim kami akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan Anda.

Sebagian diterjemahkan secara bebas dari :
https://www.autismlearningpartners.com/misconceptions-about-aba

Scroll to Top