AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD)

Autisma adalah gangguan perkembangan sel-sel syaraf otak yang muncul pada 3 tahun pertama kehidupan anak. Gangguan ini berpengaruh kepada komunikasi, interaksi sosial, imajinasi dan sikap.

Istilah autisme pertama kali diperkenalkan oleh Eugene Bleuler pada Tahun 1908-1911, seorang psikiater  dari Swiss. Ia menemukan pola pada individu penyandang skizofrenia yang tampaknya mementingkan diri sendiri. Bleuler  adalah orang pertama yang membuat dan menggunakan istilah “autism” (autis). Namun, dia bukan orang pertama dalam sejarah autis yang mengenali autisme sebagai gangguan jiwa terpisah dari skizofrenia.

Leo Kanner pada tahun 1943 di Universitas John Hopkins di Amerika Serikat menggunakan istilah autisme dari Bleuler. Ia menemukan sifat-sifat autistik pada 11 orang pasien kecilnya, yang menarik diri dari dunia luar namun tidak dikategorikan sebagai schizophrenia. Ia melihat adanya suatu gangguan perkembangan yang mendasar di mana anak-anak tersebut sejak awal kehidupan tidak mampu melakukan interaksi sosial terhadap orang lain atau situasi tertentu seperti halnya anak yang normal. Selain itu, ditemukan pula adanya kegagalan dalam membangun kemampuan berkomunikasi dan keterbatasan dalam berbahasa secara verbal. Gejala lainnya adalah terjadinya penolakan yang konsisten pada perubahan yaitu munculnya keinginan yang kuat untuk mempertahankan lingkungan sekitar agar tetap sama. Anak-anak tersebut juga menunjukkan perilaku preokupasi pada aktivitas steretip yang berulang. Ciri-ciri tersebut oleh Kanner dikelompokkan sebagai gejala-gejala utama autisme.

Ilmuwan lainnya seperti Hans Asperger (1944) ia adalah ilmuwan Austria dan dokter anak, menulis tentang pengalamannya dengan sekelompok anak-anak autis. Asperger mencatat banyak sifat yang sama pada anak yang dipelajari Kanner. Namun, sifat yang ia tidak menyebutkan adalah echolalia delayed. Sebaliknya, ia mencatat bahwa ada anak  dalam kelompoknya berbicara seperti “sedikit dewasa”. Asperger juga menyebutkan keterampilan motorik canggung mereka yang berbeda dari rata-rata anak. Jika nama Asperger tampak akrab dalam sejarah autis, hal ini karena ia memainkan peran utama dalam sejarah autisme dalam hal Asperger Syndrome, sekarang diakui sebagai jenis autis tertentu.

Bruno Bettelheim (1967) psikolog anak Austria-Amerika dan penulis, menulis
“The Empty Fortress: Infantile autism and the birth of the self”. Dalam karyanya, Bettelheim membahas gangguan autistik adalah hasil dari sikap dingin ibu mereka (refrigerator mother) dimana rata-rata orangtuanya lebih mementingkan pekerjaan dibanding kepentingan anaknya. Hal ini sempat membuat hubungan antara dokter dengan orangtua anak dengan autisme menjadi kurang baik.

Menurut APA, DSM IV th rev 2000, Autisme merupakan gangguan perkembangan yang abnormal atau masalah perkembangan pada interaksi sosial dan komunikasi serta kegiatan dan minat yang terbatas dan berulang “the presence of markedly abnormal or impaired development in social interaction and communication and a markedly restricted repertoire of activity and interests”.

Dalam DSM IV  Gangguan perkembangan pervasif (Pervasive Developmental Disorder) meliputi :  autisme, Asperger’s syndrom, childhood disintegrative disorder, Rett Syndrom dan PDD-NOS. Kriteria utama autisme pada DSM IV meliputi tiga gejala utama yaitu:

  1. Gangguan kualitatif pada interaksi sosial,
  2. Gangguan kualitatif pada komunikasi
  3. Perilaku yang terbatas, berulang dan berpola pada minat dan kegiatan

Namun sekarang sudah diterbitkan buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V; American Psychiatry Association) (tahun 2013). Dan didalamnya berisi perubahan mengenai proses penegakan diagnosa klinis Autisme. Perubahan memahami Autisme yang dilakukan oleh APA dinyatakan telah didasarkan pada riset dalam bidang Autisme.

 Pada DSM V Autisme, Asperger’s syndrom, dan PDD-NOS   dijadikan satu menjadi Autism Spectrum Disorder. Kriteria utama autisme dalam DSM V menjadi 2, yaitu :

  1. Kekurangmampuan yang persisten pada seluruh konteks komunikasi dan interaksi sosial, namun bukan karena keterlambatan perkembangan yang terjadi secara umum
  2. Adanya perilaku, minat dan aktifitas yang terbatas dan berulang
  3. Simptom ada sejak usia dini
  4. Simptom membatasi dan merusak fungsi hidup sehari-hari

                   Sampai saat ini belum adanya penyebab pasti munculnya gangguan spektrum autisme. Namun diduga kuat berkaitan dengan faktor keturunan, khususnya hubungan antara ibu dan janin semasa kehamilan. Disamping itu faktor lingkungan, konsumsi obat selama kehamilan, pengaruh virus rubella, toxoplasma, herpes, jamur di pencernaan dll pada kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak janin.

 Ciri-ciri balita dengan spektrum Autisme:

  • Kesulitan berkomunikasi secara lisan
  • Kesulitan berpartisipasi dalam percakapan
  • Kesulitan berinteraksi sosial
  • Kesulitan berimajinasi
  • Ketidakmampuan berteman, lebih suka sendiri
  • Cara bermain yang aneh
  • Kesulitan menyesuaikan diri terhadap perubahan, sangat rigid terhadap rutinitas
  • Kesulitan mengartikan bahasa non verbal
  • Stimming / gerakan berulang tanpa makna

               Belum adanya data statistik yang akurat membuat banyak anak dengan spektrum autisme kurang tertangani secara dini. Juga kurangnya sosialisasi mengenai autisme itu sendiri, sehingga banyak orangtua yang “terlambat” menyadari, namun tidak menutup kemungkinan adanya penyangkalan (denial) dari orangtua terhadap kondisi anaknya. Salah satu cara mendeteksi apakah anak ada dalam spektrum autisme, salah satunya dengan menggunakan MCHAT. Sedangkan penanganan / intervensi akan maksimal hasilnya jika dilakukan sedini mungkin dan seintensif mungkin karena kita berkejaran waktu dengan usia anak.

Salah satu metode terapi yang cukup signifikan keberhasilannya adalah terapi menggunakan metode ABA. Penjelasan mengenai metode ABA insya Allah akan saja jelaskan di artikel lainnya.

Peran orangtua dalam “menyembuhkan” anak dengan spektrum autisme sangat penting, begitu juga keluarga besar dari orangtua tersebut. Orangtua dituntut untuk bijaksana dan sabar. Sabar dalam menerima kondisi anak dan sabar dalam berikhtiar. Yang dimaksud Sabar dalam berikhtiar adalah secepatnya mencari pertolongan dari tenaga ahli yang kompeten di bidangnya dan bersabar dalam menjalankan terapi yang diberikan. Karena spektrum autisma bukanlah suatu penyakit yang jika diberi obat akan langsung terasa khasiatnya, namun dibutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk mengejar ketertinggalan anak, tergantung dari derajat spektrum yang disandangnya.

Wallahu a’lam bish-shawab…..

l dibuat dari berbagai sumber

Leave a Reply

Scroll to Top